Efektivitas suatu pembelajaran sangat ditentukan oleh sejauh mana perencanaan yang dilakukan oleh tenaga
pengajar. Perencanaan pembelajaran tidak hanya sekedar untuk
melengkapi kebutuhan administrasi dan kurikulum, tetapi harus didesain dengan
melibatkan komponen-komponen desain instruksional yang meliputi tujuan
instruksional yang diawali dengan analisis instruksional, analisis peserta
didik dan konteks, merumuskan sasaran kinerja, pengembangan instrumen
penilaian, mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih
materi, dan mengembangkan serta melakukan evaluasi formatif dan sumatif.[1]
Namun, pengembangan bahan ajar yang dilakukan selama ini
baru dalam batas pengadaan bahan cetak berupa hand out,
ringkasan materi, dan materi penyajian
dalam bentuk Powerpoint. Bahan cetak lain
seperti buku dan modul masih sangat
terbatas dihasilkan apalagi kalau bahan ajar berupa audio, visual, dan multi media yang
mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Pengembangan modul hanya sekedar mengumpulkan
materi yang langsung diajarkan kepada peserta didik tanpa melakukan analisis
kebutuhan dan berbagai proses yang sistemik dan sistematis. Proses penyusunan seperti ini tidak dapat
menjangkau kebutuhan peserta didik yang sesungguhnya sehinga materi pembelajaran yang
disampaikan cenderung tidak dapat menarik minat peserta
didik. Begitu pula, pembelajaran
yang hanya mengandalkan handout dan ringkasan materi memang dapat memberikan ringkasan pelajaran yang
bisa disampaikan dalam waktu singkat dan dapat dipahami lebih cepat. Tetapi,
akibatnya peserta didik hanya dapat memahami secara sederhana aplikasi pembelajaran yang
bersifat dangkal. Sedangkan, secara konseptual, teori-teori, postulat, dan rumus-rumus yang membangun
pemahaman secara mendalam tidak dapat dijabarkan dengan sistematis dan
berkelanjutan.
Bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan teori desain instruksional
memegang peranan penting dalam menciptakan kondisi belajar yang kondusif. Terdapat tiga alasan mengapa bahan ajar itu memiliki
posisi sentral, yakni (1) merupakan
representasi sajian tenaga pengajar, (2) sebagai
sarana pencapaian tujuan pembelajaran, dan (3) pengoptimalan
pelayanan terhadap peserta didik.[2]
Pertama, bahan ajar
sebagai representasi dari penjelasan tenaga pengajar di depan kelas. Keterangan-keterangan, uraian-uraian
yang harus disampaikan, dan informasi yang harus disajikan tenaga
pengajar dihimpun di dalam bahan ajar. Dengan
demikian, tenaga pengajar dapat
mengurangi aktivitas untuk menjelaskan sehingga memiliki banyak waktu untuk
membimbing pemelajar dalam melakukan
aktivitas pembelajaran. Kedua, bahan ajar berkedudukan sebagai
alat atau sarana untuk mencapai tujuan. Ketiga, bahan ajar
juga merupakan wujud pelayanan satuan pendidikan terhadap peserta didik.
Peserta didik berhadapan dengan bahan yang terdokumentasi dan berhubungan
dengan informasi yang konsisten sehingga bagi peserta didik yang cepat belajar
dapat mengoptimalkan kemampuannya dengan mempelajari bahan ajar tersebut. Sebaliknya,
bagi peserta didik yang lamban belajar dapat
mempelajari bahan ajar secara berulang-ulang.
Dengan demikian, optimalisasi pelayanan belajar terhadap peserta didik dapat
terselenggara dengan baik melalui penggunaan bahan ajar.
Pengembangan adalah salah satu domain teknologi
pembelajaran yang berfungsi
sebagai
proses penerjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik.[3] Dalam melakukan kegiatan pengembangan, beberapa pertimbangan penting yang perlu
dipahami mencakup (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran (standar
kompetensi), (2) melakukan analisis pembelajaran, (3) menganalisis peserta didik dan konteks, (4) menulis tujuan instruksional
khusus (kompetensi dasar), (5) mengembangkan instrument asesmen, (6)
mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan menyeleksi materi
pembelajaran, (8) mendesain dan melakukan evaluasi formatif, (9) melakukan
revisi, dan (10) mendesain dan melakukan evaluasi sumatif
[1]
Dick and carey, The Systemstic Design of
Instruction, Sixth Edition (New York:Pearson, 2005) hal. 1—361.
[2] Zulkarnaini, Pembelajaran dengan
Bahan Ajar Buatan Guru, hal. 5, 2009 (http://zulkarnainidiran.wordpress.com/2009/06/28/pembelajaran-dengan-bahan-ajar-buatan-guru/).
[3]
Barbara Seels, dan Rita Richey, The Defination And Domain Of The Field. (Association For Educational Communication And Technonology. Washington DC,
1994), hal. 35.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar